Kamis, 6 Nopember 2008 16:03
Final 17 November,
Riauterkini-PEKANBARU-Restrukturisasi di tubuh PDAM Tirta Siak menjadi harga mati. Kegiatan efisiensi pegawai sebagaimana sudah diproses sebelumnya mulai ditindaklanjuti sejak 3 Oktober. Efisiensi dilakukan PDAM mengingat kondisi keuangan yang sangat memprihatinkan, tidak balance atau seimbang dengan pemasukan dari tarif air.
Tim restrukturisasi yang beranggotakan 5 orang pun sudah dibentuk sejak 22 Oktober lalu. Tim Efisiensi Pegawai beranggotakan direktur dan kabag PDAM, yakni Nova Novianti (ketua tim), dengan anggota Adrial, Amir Faisal, Hartati dan dan Tuti Wati. Fungsinya menindaklanjuti saran konsultan, PT Waseko yang salah satu rekomendasinya adalah mengurangi jumlah karyawan PDAM. Saat ini, jumlah karyawan PDAM mencapai 156 orang.
"Kita lakukan perundingan dengan karyawan untuk menindaklanjuti saran konsultan, sesuai dengan UU No 22/1004 tentang ketenagakerjaan. Data sudah ada, tinggal penyelesaian saja," jelas Direktur Keuangan Nova Novianti yang juga menjabat sebagai Ketua Tim Efisiensi kepada riauterkini di sela-sela rapat tim efisiensi Kamis (6/11). Namun ketika dipertanyakan berapa jumlah karyawan yang bakal dikurangi, Nova menolak berkomentar. Yang pasti, lanjut Nova, PT KTDP sebagai investor sudah menyiapkan dana Rp2,6 miliar untuk pesangon karyawan.
Sebelum itu pada pagi harinya, beredar sms dari nomor tak dikenal kepada wartawan bahwa hari ini akan ada perundingan tim efisiensi dengan 28 karyawan yang akan di-PHK-kan. Namun ketika dikonfirmasi mengenai jumlah karyawan yang bakal di PHK, Nova menolak berkomentar. "Diabaikan saja. Itu sms seperti surat kaleng, tidak perlu ditanggapi. Yang pasti, tanggal 17 November nanti, semua sudah selesai," imbuhnya.
Namun salah seorang karyawan PDAM, Kamiasar mengaku menerima undangan perundingan bipartit dengan Tim Efisiensi Pegawai PDAM. Undangan dengan nomor 10/PDAMTS-TEP/Und/XI-2008 mengundang Kamiasar untuk berunding bipartit Rabu (5/11) lalu. "Ada 28 orang yang terima surat serupa, undangan perundingan bipartit. Saya sendiri tak masalah dengan efisiensi. Dua tahun lagi saya juga pensiun," ujar Kamiasar santai.
Pengurangan karyawan PDAM menjadi salah satu jalan bagi PDAM untuk menuju sehat. Kondisi keuangan yang memprihatikan menjadi masalah utamanya. Hingga hari ini, karyawan belum juga menerima gaji. Menurut Direktur Tekhnik, Adrial, pengeluaran dan pemasukan PDAM tidak seimbang. Untuk gaji sebulan diperlukan sekitar Rp300 juta, pengeluaran bahan kimia Rp350 juta, listrik Rp250 juta. Sementara pemasukan hanya berkisar Rp800-900 juta. Belum lagi untuk biaya operasional lainnya. "Pendapatan tak bisa naik karena tarif air tak naik. Padahal sudah dilaksanakan efisiensi untuk listrik dan bahan kimia. Sekarang saja karyawan belum gajian. Agar perusahaan balance, ya restrukturisasi," pungkasnya.
Efisiensi Pegawai Akan Terus Berlanjut
Sebanyak 28 karyawan PDAM Tirta Siak akhirnya diberhentikan manajemen PDAM. Menurut Ketua Badan Pengawas PDAM, Fauaz Ilyaz Selasa (18/11) menyatakan, untuk awal memang ada 28 orang yang di'lay off'. Namun berikutnya, akan ada kelanjutannya.
"Efisiensi akan berlanjut. Sekarang baru target pertama. Berikutnya, masih ada kelanjutannya," ujar Fauaz.
Untuk pesangon ke-28 karyawan yang direkomendasikan terkena program 'lay off', anggaran Rp2,9 miliar sudah disiapkan oleh investor, PT Karta Tirta Dharma Pangada (KTDP). Transfer dana pesangon dilaksanakan Selasa siang. "Kita bayarkan dulu pesangonnya, baru karyawan (yang diberhentikan,red) tidak masuk lagi," tambahnya.
Mengenai efisiensi lanjutan, Fauaz mengaku tidak mengetahui secara rinci. Hanya saja, sudah ada rasio berapa kebutuhan karyawan PDAM. Tujuannya, untuk meningkatkan kinerja sesuaikan dgn aturan yg berlaku. "Kita harapkan dengan efisiensi, bisa meningkatkan kinerja PDAM," imbuhnya.
Efisiensi ditubuh PDAM memang harus dilaksanakan. Dengan jumlah 156 karyawan saat ini, PDAM terlihat 'gemuk'. Sementara pengeluaran dan pemasukan tidak seimbang. Untuk gaji karyawan sebulan saja mencapai Rp300 juta. Pembelian bahan kimia Rp350 juta dan bayar listrik Rp250 juta. Belum pengeluaran teknis lainnya. Sedang pemasukan hanya berkisar Rp800-900 juta.
Sementara, ketika ditanya mengenai pemecatan dirut PDAM, Kemas Sjamsul Qomar, Fauaz mengakui sudah merekomendasikan hal tersebut. Saat ini, pemecatan sedang dalam proses. Walau berharap banyak dari Kemas, lanjutnya, masalah keluarga Kemas sehingga tidak bisa kembali ke Pekanbaru menjadi alasan kuat untuk dilaksanakannya pemecatan. "Fit and proper test yang kita laksanakan kemarin tidak main-main. Kita berharap banyak dari Kemas. Tapi ternyata begini," pungkasnya.***(sari)


